… My Simple Thoughts …

Hancock

Posted by mels on 14 July 2008

Tertarik dengan ceritanya yang lain dari biasanya, penasan bener gue nonton Hancock. Tapi setelah dilihat Iron Man masih film super hero terkeren versi gue. Hancock? Lumayan saja.

John Hancock adalah nama seorang laki-laki yang dianugerahi kekuatan super. Dia bisa terbang, berotot baja dan tak tembus peluru. Tapi nggak seperti Superman, manusia super ini punya banyak kekurangan. Salah satunya doyan mabuk2an dan ceroboh saat melakukan aksinya.

Kecerobohan Hancock bahkan membuatnya “didemo” masyarakat hingga berbuah penjara. Dibantu oleh Ray Embrey, seorang PR perusahaan kenamaan yang nyawanya ditolong Hancock di atas rel kereta api, manusia super ini pun mencoba memperbaiki reputasinya.

Di saat itulah Mary Embrey, istri Ray, mencuri perhatian Hancock. Namun siapa sangka perempuan pirang cantik itu menyimpan rahasia yang mencengangkan. Rahasia apakah yang dimiliki Mary? Berhasilkah Hancock memperbaiki reputasinya?

Ah, gue gag happy nonton film ini. Nggak ada adegan yang bikin gue teriak2, nggak ada yang bikin deg2an, yang bikin nangis? apalagi! cuma ada satu dua adegan yang bikin gue nyengir. It’s a bit flat. Kelebihannya cuma cerita saja. Nggak pernah kan lo ngliat film super hero terbang sambil megang botol minuman keras? Atau super hero ngancem anak kecil yang ngatain dia “assh***”?!

Will Smith masih seganteng terakhir gue nonton di Pursuit of Happyness (di DVD udah lumayan lama). Penggemarnya kayaknya sih nggak kecewa lah nonton film ini.

Posted in movie | Tagged: , | 1 Comment »

21

Posted by mels on 2 July 2008

Sayang sekali film sebagus 21 hanya tayang di beberapa bioskop terpilih di Jabodetabek –diantaranya Plaza Senayan. Buat gue inilah contoh tontonan yang cerdas, memikat dan menghibur!

Sesuai judul, 21 bercerita seputar Blackjack yang (katanya, sih) merupakan permainan kartu paling digemari di kasino2. Tokoh utamanya adalah Ben Campbell, seorang mahasiswa MIT, yang memiliki impian untuk bersekolah di Sekolah Kedokteran Harvard yang sangat bergengsi.

Namun karena terbentur biaya, Ben terpaksa membiayai kuliahnya lewat kerja keras di toko pakaian pria sembari mencoba peruntungan lewat beasiswa. Ben baru melihat jalan pintas untuk membiayai impiannya saat kepiawaian berhitungnya diketahui salah satu dosennya, Profesor Rosa.

Micky, begitu Rosa senang disapa, bukan dosen kebanyakan. Diam2, dia adalah seorang ahli menghitung kartu. Menggunakan beberapa mahasiswanya, Micky menjalani “bisnis” mencetak uang lewat permainan Blackjack.

Tergiur dengan iming2 bayaran yang bakal memuluskan impiannya bersekolah di Harvard, tawaran kenikmatan duniawi di Las Vegas dan lebih dekat dengan dewi kampusnya, Jill Taylor, Ben tercebur dalam permainan berisiko itu. Namun sampai dimana Ben bisa mengatasi godaan yang perlahan-lahan membuat hidup nyamannya berantakan?

Walau gue nggak tergila2 dengan permainan kartu, ditambah nggak familiar dengan Blackjack, cukup takjub juga ngliat pemaparan “ilmu” dan trik yang berada di balik permainan itu. Memang di awal proses pembekalan Micky akan terasa membosankan, tapi begitu sampai di bagian praktik, you will be amazed!

Karena plotnya yang pas, dua jam durasi film tersebut sama sekali nggak terasa. Namun itu harus gue akui terbantu oleh kehadiran Jim Sturgess (Ben Campbell) yang menyegarkan mata. Hehe. I can’t imagine if it wasn’t him on the screen. Walau demikian tanpa adanya Kevin Spacey (Micky Rosa), ini film dijamin biasa. Spacey adalah salah satu villain favorit gue.

Satu nilai plus lainnya, film ini based on true story, so, thanks God, tidak ada akhir a la Hollywood yang ngeselin melainkan begitu alami. Mau ngomong apa lagi, gue? This film is definitely  recommended.

Posted in movie | Tagged: , | No Comments »

The Happening

Posted by mels on 16 June 2008

Dari semua genre film yang ada, horror/thriller adalah genre yang paling gue nggak demen. Alasannya simple, buat apa ngluarin uang untuk melihat film yang bikin kita takut? Boro2 terhibur. Tapi karena terbujuk rayuan temans, untuk pertama kali setelah beberapa tahun gue nonton lagi film thriller di bioskop.

Judulnya The Happening. Film yang skenarionya dibuat oleh M. Night Shyamalan yang tersohor dengan Sixth Sense dan Unbreakable itu bercerita tentang sebuah fenomena mengerikan yang bermula di Central Park di kota New York.

Nggak ada hujan –cuma ada angin yang kencang– tiba2 banyak warga New York melakukan bunuh diri. Ada yang menusuk diri dengan senjata tajam, atau menjatuhkan diri dari gedung bertingkat.

Fenomena tersebut menakutkan warga di kota lain di Pantai Timur AS. Elliot Moore adalah salah satunya. Guru Biologi di sebuah Sekolah Menengah Atas di Philadelphia tersebut buru2 mengajak istri dan bersama keluarga sahabat gurunya di sekolah untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

Namun, di tengah perjalanan dengan kereta mereka dipaksa berhenti di sebuah kota antah berantah. Terdampar, Elliot, istri, dan anak sahabatnya dipaksa untuk survive dari serangan dari “musuh” yang mereka sendiri tidak tahu.

Jujur, gue nggak happy nonton film ini. Gambarnya kadang sering mempertontonkan adegan sadis. Highly not recommended buat ditonton anak di bawah umur. Ceritanya pun bikin kesal. Kalau “musuh” mereka adalah psycho bersenjata kapak, pembunuh berkedok polisi, atau hantu gentayangan, mungkin gue nggak akan sekesal itu karena sepanjang film dibikin kaget terus. Tapi kali ini musuhnya “abstrak”. Secara penokohan film ini pun biasa banget.

Setelah keluar dari bioskop gue pun menduga apa moral of the story film ini. Satu yang gue pikir paling masuk akal berangkat dari pertanyaan salah satu teman: “Kenapa ya di masa depan dunia selalu digambarkan mengerikan?”. Well, mungkin film seperti ini adalah peringatan bahwa di masa sekarang manusia sudah sangat sering berlaku seenaknya pada sekitarnya. Di masa depan gantian mereka yang tersakiti yang membalas dendam. Ngeri, ya!

Posted in movie | Tagged: , | 3 Comments »

Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull

Posted by mels on 26 May 2008

Gara2 nonton Indiana Jones and The Temple of Doom, gue pernah bercita2 jadi arkeolog. Kayaknya seru gitu berpetualang ke negeri2 eksotis sambil mencari benda2 purbakala yang nggak kalah eksotis. Tapi setelah gue nonton Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull, kok, gue nggak yakin ada anak SD yang tiba2 kepengen jadi arkeolog.

Indy episode keempat ini masih dibintangi oleh Harrison Ford yang masih berperan sebagai Henry Jones Jr alias Indy, profesor jurusan arkeologi yang dihadapkan pada pencarian tengkorak kristal. Konon, tengkorak itu bisa memberikan kekuatan luar biasa bagi orang yang mampu mengembalikannya ke tubuh asalnya.

Dalam usahanya menemukan tengkorak tersebut, Indy bertemu dengan Mutt Williams, anak seorang arkeolog “kenalan” Indy. Mutt meminta tolong Indy untuk menemukan ibundanya, yang diculik ketika sedang melakukan pencarian tengkorak kristal.

Namun Indy dan Mutt harus bersaing dengan pasukan NAZI pimpinan Irina Spalko, yang ngebet menguasai kekuatan yang dihasilkan oleh benda magis tersebut. Dan di ujung pencarian mereka, Indy, Mutt, Spalko, Marion Ravenwood (ibunda Mutt), Profesor Oxley (sahabat Indy dan Marion) serta Mac (agen KGB sahabat Indy) justru menemukan sumber kekuatan yang tidak mereka sangka asalnya.

Seperti kata gue di paragraf pertama, kayaknya film keempat ini kurang menggugah imajinasi, deh :P Adegan petualangannya kurang seru, actionnya lumayan aja dan nggak bikin tereak2 karena tegang. Tapi patut diacungi jempol om Harrison masih bisa nampolin penjahat –walau dah jelas kalah sama jaman mudanya :P Satu lagi, agak kecewa sama ending-nya yang kurang “membumi”.

Plusnya, film ini cukup menghibur karena kerap dibumbui humor2 segar. Dan untuk melepaskan nostalgia jaman sekolah film ini mayan lah.

Posted in movie | Tagged: , | 3 Comments »

Speed Racer

Posted by mels on 15 May 2008

Inilah beragam komentar teman2 gue sehabis nonton Speed Racer di salah satu XXI di bilangan Jaksel :P akhir pekan yang lalu.

Ikhwan: “Bagus, kayak kartunnya.”
Bowo: ”Awalnya membingungkan, belakangan menyenangkan”
Felis: “Memusingkan (gambarnya)”
Alle: “Ah, lebai”
Gue?

Speed Racer adalah nama seorang pemuda yang sudah terobsesi dengan dunia balap semenjak masih duduk di bangku sekolah. Hasratnya untuk menjadi seorang pembalap hebat semakin tak terbendung menyusul kematian kakak kandung sekaligus idolanya, Rex.

Terpacu akan kenangan mendingan Rex, Speed menjelma menjadi seorang pembalap berbakat yang diincar oleh pabrikan top yang dipimpin oleh Royalton. Namun, karena prinsip, Speed menolak pinangan pengusaha tajir itu.

Tapi penolakan Speed membawanya kepada sebuah intrik dalam dunia balap yang kejam sekaligus mengancam keselamatan orang2 tercintanya. Mampukah Speed mengatasi teror tersebut sekaligus meraih juara World Racing League (WRL) yang diidam-idamkannya?

Secara gambar gue harus setuju dengan Felis. Kalo kata gue terlalu berlebihan. Warna shocking-nya terus-terang bikin mata harus memincing tiap kali layar menyuguhkan adegan balapan virtual. Dah gitu apa sebetulnya maksud dibalik percampuran animasi dan real? Gue curiga gara2 yang bikin tergila2 dengan special efek (sutradara SR = yang bikin The Matrix trilogy).

Kalo dari segi cerita dan penokohan lumayan lah. Ceritanya standar cerita olahraga yang formulanya nggak jauh2 dari: rookie mendadak beken - tersungkur - juara. Penokohan juga oke lah. Matthew Fox di situ kok suaranya seksi banget ya? Huehehe. Cuman agak geli aja ngliat Christina Ricci, yang sok mature. Bintang asal Korea/iklan shampo Clear, Rain, juga maen di situ. Tapi ya gitu deh. BTW mau tau nggak karakter favorit gue? Bukan Speed atau Rex muda yang super duper ganteng, melainkan si monyet kocak Chim-Chim dan adik bungsunya Speed, Spritle. Mereka lucu banget!

Anyway, jangan biarkan review gue mematahkan semangat nonton, lho. Gue yakin yang demen nonton kartunnya dan penyuka film be-special efek bakal berteriak: Go, Speed Racer, go!

Posted in movie | Tagged: , | 2 Comments »

Iron Man

Posted by mels on 8 May 2008

Ini dia cerita superhero paling manusiawi yang pernah gue lihat. Ditambah dengan efek keren, penokohan yang pas, film ini bener2 recommended, deh.

Film yang dibintangi oleh Robert Downey Jr dan Gwyneth Paltrow ini mengangkat kisah Iron Man, superhero yang mengandalkan teknologi canggih dalam bajunya untuk membantu sesama. Tokoh di balik pahlawan bertopeng tersebut adalah Tony Stark, seorang ilmuwan sekaligus pengusaha senjata yang terkenal.

Sebagai seorang pengusaha senjata, Tony tidak pernah memikirkan efek negatif produk2nya. Namun prinsipnya berubah setelah peristiwa penawanannya oleh sekelompok teroris Afghanistan yang, ironisnya, merupakan konsumen produk2 ciptaan perusahannya.

Setelah lolos dari sekapan menggunakan baju baja yang diciptakannya, Stark berubah. Dari otak dan pimpinan Stark Technology, dia memutuskan langkah drastis yakni berhenti memproduksi senjata dan menggunakan keahliannya untuk membantu warga yang menderita akibat senjata2nya.

Keputusannya jelas menggegerkan, apalagi buat rekannya di perusahaan, Obadiah Stane. Di saat Stark menyempurnakan baju baja yang diciptakannya demi menjalankan misinya, Stane menghalalkan segala cara untuk membuyarkan misi Stark.

Kenapa, ya? Nonton duong!

Review gue udah ada di paragraf pertama. Minusnya cuma ni film bikin penasaran. Jadi nggak sabar nunggu sequelnya. Empat bintang buat Iron Man. I love it!

Posted in movie | Tagged: , | 1 Comment »

Nanny Diaries

Posted by mels on 2 May 2008

Chick movie yang kurang inspiring. Standar. Please, deh, Scarlett Johansson, jangan lagi main film genre beginian, ah.

Scarlett Johansson berperan sebagai Amy Braddock, lulusan kampus cukup terkenal di New Jersey, yang “dipaksa” ibunya untuk bekerja kantoran sebagaimana rekan2nya sekampusnya.

Tapi Amy ogah. Selain karena merasa nggak happy kerja kantoran, dia seakan-akan mendapatkan inspirasi lebih setelah bertemu dengan seorang wanita high class dari Manhattan yang secara tak sengaja ditemuinya di sebuah taman.

Maksudnya tapi bukan jadi sosialita seperti Mrs. X itu, tapi jadi nanny alias pengasuh anak! Iya, doi penasaran dengan gaya hidup perempuan jet set seperti Mrs. X. Ditambah, doi kepincut dengan putra asuhnya yang bandel tapi sekaligus menggemaskan. Tapi bisa nggak, ya, Amy jadi nanny yang menyenangkan?

Secara gue belum pernah baca novelnya (walau di rumah ada sih di rak buku), ni film kok nggak ada inspiring2-nya, ya. Kemungkinan besar karena Scarlett Johansson, aktris yang belum pernah gue liat main bagus di film mana aja deh yang sempet gue tonton (ie: Lost in Translation, The Prestige). Mungkin akan beda kalo yang main, misalnya, Drew Barrymore.

Moral of the story-nya, yang kalo kata gue,”nggak penting menjadi sukses yang penting lo happy menjadi diri lo sendiri”, juga kurang mengena. Abis, ending-nya Amy juga nggak jadi siapa2 *spoiler*, cuma memang dia happy karena dari petualangannya sebagai nanny dia menemukan sang pujaan hati *klise*.

Barusan nyontek IMDB novel dan filmnya rupanya beda banget ceritanya. Mungkin kita harus baca novelnya aja. Kalau mo nyari lucu sekaligus terinspirasi, gue saranin nonton lagi deh film2 Bridget Jones atau Legally Blonde.

Posted in movie | Tagged: , | 1 Comment »

Juno

Posted by mels on 28 April 2008

Cerita tentang kehidupan remaja yang dikemas secara sederhana. Untuk sebuah film yang sederhana, Juno menurut gue lumayan.

Juno MacGuff adalah nama seorang gadis 16 tahun yang hamil karena “kecelakaan”. Dibantu seorang sahabatnya Juno memutuskan untuk mencarikan orang tua buat anaknya.

Pencariannya tidak berlangsung lama setelah dia menemukan pasangan Vanessa-Mark Loring lewat iklan di surat kabar. Namun di saat masa depan anak yang dikandungnya telah terbayang, rumah tangga Vanessa-Mark diguncang perpisahan. Di saat bersamaan, hubungan Juno dengan ayah bayinya membaik. Jadikah Juno menyerahkan anaknya?

Secara cerita nggak ada yang istimewa yang ditawarkan film yang diproduseri oleh Jennifer Garner itu. Gambar pun nggak istimewa. Bintang? Kalo kata gue mah nggak istimewa juga. Tapi justru kesederhanaan yang menjadi kekuatan film tersebut.

Secara belum pernah nglihat, apalagi ngalamin, yang namanya hamil di luar nikah, menarik ngliat gimana sulitnya menjadi dewasa di saat secara mental belum siap. Ngliat gimana sulitnya menjadi orang tua yang harus support, walau kecewa berat dengan kenyataan yang terjadi. Ngliat betapa garis hidup nggak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Kalau demen film2 yang anti menjual mimpi, ni film perlu ditonton.

Posted in movie | Tagged: , | No Comments »

Street Kings

Posted by mels on 14 April 2008

Gue nggak ngerti seberapa besar rasa sebel masyarakat Amrik sama polisinya. Buktinya, dua tahun terakhir ini saja sudah beberapa film yang gue tonton yang mengungkap kebobrokan polisi sebagai topiknya. Mulai dari The Departed, American Gangster, sampai, yang terakhir gue tonton, Street Kings. Mungkin di Amrik polisi bobrok adalah “Gosip Jalanan”-nya :P

Sentral cerita di Street Kings adalah Tom Ludlow. Ludlow adalah seorang detektif tempramental yang bertugas mengurusi masalah2 susila di wilayah hukum Los Angeles.

Suatu ketika dia dihadapkan pada sebuah kasus yang tidak hanya menyebabkan kematian eks-partnernya, namun juga mengancam masa depannya di kepolisian. Merasa perlu mengungkapkan pembunuhan eks-partnernya yang tragis, sekaligus ingin membersihkan namanya, Ludlow mengungkap sebuah konspirasi busuk yang tidak pernah diduganya.

Langsung aja review-nya. Secara cerita ni film menarik. Intriknya oke. Di awal2 kita akan digiring untuk menunjuk si A sebagai orang jahat. Di tengah2 bergeser ke si B. Tapi ternyata ending-nya bener2 mengejutkan. Itu masih ditambah dengan pengungkapan buanyaknya polisi jahat ketimbang baik yang bertebaran di film ini.

Sebagai film action yang pasti menampilkan adegan kekerasan, ni film juga cukup. Walaupun tetep ada tayangan yang berdarah-darah, tapi nggak terlalu berlebihan. Dan nggak banyak abuse2 lain yang dipertontonkan.

Satu hal yang membuat gue kecewa berat adalah penokohannya. Kemana perginya si botak-macho-pemberani yang pernah gue liat di film Speed? Kok yang ada detektif cengeng yang selalu berlindung di balik ketiak bosnya? Hu uh! Untung di usianya yang sudah menginjak 43 tahun, Keanu Reeves masih terlihat ganteng, yah, walau ada sedikit kerutan tanda penuaan di wajahnya. Aktingnya pun masih prima. Dan suaranya tetep bisa membuat jantung deg2an. Huehehe.

Anyway, buat para pencinta film action, ni film perlu ditonton. Pesan film ini pun bener2 bisa bikin kita ngangguk2 tanda maklum. “Ini tentang polisi membantu sesama polisi. Kalau fireman bisa melakukan yang dilakukan polisi, mereka pasti akan melakukannya.” Nah, lho…

Posted in movie | Tagged: , | 4 Comments »

August Rush

Posted by mels on 14 April 2008

Untuk kedua kalinya (setelah Bourne Ultimatum) gue tergoda untuk memberi lima bintang –sebagai tanda kesempurnaan buat satu film. August Rush is definitely a must seen film.

August Rush adalah seorang anak lelaki berusia 11 tahun yang mencintai musik. Dibesarkan di sebuah panti asuhan yang didiami anak2 lebih besar yang menganggapnya mahluk aneh, tidak mengecilkan hasrat August untuk menjadi pemusik.

Kesempatan itu datang saat dia bertemu dengan seorang pengamen cilik bernama Arthur. Di “rumah” Arthur, dia pertama kali mengeksplor kemampuan musiknya di bawah pantauan pimpinan pengamen jalanan, yang diperankan Robin Williams, yang jahat. Seorang pastur membantu August menyalurkan bakat bermusiknya di sekolah musik ternama, Juliard.

Bakat cemerlang August sebetulnya turunan dari kedua orang tuanya yang pemusik. Sayang, karena keegoisan kakeknya dia dipisahkan dari ibundanya sejak lahir. Namun musik pula lah yang akan mempertemukan August dengan orang tua yang hampir tidak pernah dikenalnya.

Secara cerita, ni film menarik dan nggak bertele-tele, walau ada cerita standarnya yakni one night stand yang berbuah kehamilan Lyla –ibunda August yang diperankan oleh Keri Russel. Secara gambar, I love it. Kalau kata gue PAS –nggak berlebihan tapi juga nggak pas2an. Apalagi sutradanya demen banget mengambil latar gambar bulan purnama –fenomena alam favorit gue. Fullmoon + chit-chatting with a fine gentlemen on a roof top = a perfect way to spend a night.

Secara penokohan pun luar biasa. Jonathan Rhys Myer, who played August dad, is definitely a heartthrob! Acting-nya lumayan, punya tampang yang ganteng, and he can sing! Bagus banget lagi suaranya! Keri Russel juga sama menawannya. But above all, Freddie Highmore (August) is a sweetheart. Yang jelas gue akan sangat menunggu film2-nya yang akan datang.

Plus lainnya adalah musik2 indah yang ditampilkan di film ini. Gue suka semua, walau favorit gue tetep lagunya John Legend, Someday, yang udah lekat di telinga ini “Someday, we’ll be together, someday.” Cucok sama ceritanya.

Behubung plusnya jauh lebih banyak dari minusnya (kalau ada), maka gue nggak berlebihan menyarankan film ini supaya ditonton semua orang. See this movie and found out its beauty.

Posted in movie | Tagged: , | 2 Comments »

 
FireStats icon Powered by FireStats