“Sekarang saatnya kita menjadi pahlawan.” Demikian kalimat yang diungkapkan Yu Mo, seorang Perempuan Penjaja Seks (PSK) di Nanjing. Mo menegaskan pepatah ‘Jangan Menilai Buku dari Sampulnya.’
Yu Mo (Ni Ni) merupakan seorang PSK yang bersama teman-temannya sesama penghuni rumah bordil mengungsi ke sebuah katedral di sebuah sudut kota Nanjing, ketika Jepang menduduki kota tersebut tahun 1937. Di katedral ini tinggal beberapa siswi perempuan dan George (Tianyuan Huang), anak angkat sang pastor.
Setelah sang pastor meninggal akibat bom Jepang, John Miller (Christian Bale) datang dari Amerika untuk mengurus jenazahnya. John yang awalnya hanya ditugaskan untuk mengebumikan jenazah sang pastor kemudian melibatkan dirinya dalam upaya penyelamatan para siswi penghuni katedral dari kekejaman tentara Jepang.
Namun kondisi menjadi rumit ketika Mo dan teman-teman PSK-nya ikut mengungsi di katedral. Kehadiran Mo cs tak pelak kerap memicu pertengkaran dengan para siswi. Ditambah penjagaan ketat tentara Jepang, bisakah Miller membantu para penghuni katedral keluar dari Nanjing?

‘The Flowers of War’ merupakan film karya sutradara Zhang Yimou. Beberapa film Zhang yang pernah masuk ke bioskop-bioskop Indonesia diantaranya ‘Hero’ dan ‘Curse of The Golden Flower’.
Film ini di IMDB disebutkan sudah tayang di Cina sejak akhir 2011. Namun sepertinya film ini harus menjalani proses sensor yang ketat sebelum masuk ke Indonesia karena kebrutalan perang yang dipertontonkan di beberapa adegan. Saya tidak merekomendasikan film ini ditonton bersama anak di bawah usia 17 tahun.
Namun di balik kebrutalan perang dan kesedihan yang dipertontonkan, film ini adalah sebuah karya yang sangat memesona. Alur ceritanya tidak membosankan. Cast-nya tak kalah memesona.
Bale menurut saya adalah jaminan kualitas sebuah film. Terus terang, aktor dalam film ‘The Fighter’ dan ‘The Dark Knight’ ini yang membuat saya memilih menonton film ini pada awalnya.
Juga menjadi nilai plus adalah kerapuhan para gadis remaja di tengah perang diperankan dengan sungguh-sungguh oleh Xinyi Zhang (memerankan Shujuan Meng) dan teman-temannya.
Namun adalah keindahan yang diperlihatkan oleh sosok Mo yang anggun dan menggoda yang menurut saya menjadi sentralnya. Di balik profesinya yang dianggap hina oleh banyak orang, Mo ternyata juga memiliki hati yang mulia. Memang, jangan pernah menilai buku dari sampulnya.
Kalimat di paragraf pertama adalah ucapan Mo ketika kelompoknya dihadapkan pada pilihan, menjadi tidak peduli atau mengambil peran sebagai pahlawan ketika kesempatan itu datang.
Saya pribadi belum pernah menonton karya-karya Zhang sebelumnya, namun sudah sering mendengar namanya di banyak perhelatan Oscar. This movie is definately an Oscar material too.
Bagi Anda penggemar film berlatar belakang kemanusiaan, ‘The Flowers of War’ adalah film yang wajib disaksikan tahun ini.






sepertinya bakal jadi film yang wajib saya tonton..thanks resensinya bu
wuaa..Reviewnya bagus mba, Fyi..film ini bahasa mandarinnya 金陵å三钗 (JÄ«nlÃng ShÃsÄn ChÄi) hehe.. Zhang Youmo emang handal mba bikin film2 yg model2 kya gini, kya filmnya dia yg sebelumnya itu Curse Of Golden Flower juga keren bgt dan gak bosen buat ditonton ulang
Good movie … film yang keren dengan durasi 2,5 jam tetap tak berasa pada saat filmnya dah selesai, awalnya juga males karena durasinya lama, tapi pas dah di dalam bioskop males keluar, really really great movie … 2 tumb for this movie …
sama2, kalo udah nonton tulis reviewnya juga yaks
jemmiee, lo harus nonton pelem ini, biar sekalian belajar bhs mandarinnya
terima kasih udah mampir
Yang memeran film ini aktor perempuannya bukan zhang zi yi?
bukan, pendatang baru namanya Ni Ni… memang sekilas mirip zhang zi yi ya
film ini agak terlalu sadistis
kayanya sih bakalan keren banget dah soalnya saya sendiri sudah nntn film2 sebelumnya apa lagi film \”Curse of The Golden Flower\” bener2 cerita yang tidak ngebosenin walau sayang tonton terus menerus. makasih reviewnya
good movie,tpi jangan tayang di indonesia,terlalu sadis..
wuahh
review nya mantep
ne film kayaknya bakal bagus dah
#imajinasi dulu#
kan udah tayang terbatas di bioskop Indonesia mas, cuman skr kayaknya udah turun lagi…
setelah ini sepertinya mulai tertarik melirik film yimou yang lain deh
terima kasih sudah mampir
pertama baca reviewnya aku udh tertarik buat nonton Mbak, pas udh nonton bener\” terkesan dgn jalan cerita dan sangat merekomendasikan utk tmn\” pencinta film berkelas