Review ‘Hunger Games: Mockingjay Part 1′

26 Nov 2014

9d1bf8db6e53077fa0ce183d3618ea63_poster-mockingjay-1

Ini mungkin film paling keren dari series Hunger Games yang sudah saya tonton. Menggambarkan cerita yang heroik dan gambar yang tidak terlupakan. Postingan kali ini bakal berisi banyak spoiler.

Seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan film ‘Hunger Games: Catching Fire‘, saya belum pernah membaca novel trilogi Hunger Games sebelumnya. Tapi ternyata cerita heroik di negeri fiktif Panem ini sangat menarik untuk diikuti. Film ketiga yang dibintangi oleh Jennifer Lawrence ini diawali dengan terbangunnya Katniss Everdeen di Distrik 13. Katniss selamat dari cengkraman Capitol setelah memporak-porandakan quarter qwell, ajang Hunger Games yang ke-75, dan kini berada dalam lindungan pemberontak pimpinan Presiden Coin (Julianne Moore). Kepada Katniss, Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) bercerita tentang pemberontakan terhadap kesewenang-wenangan Capitol di banyak distrik usai aksi Katniss itu.

Demi melihat sosoknya yang heroik, Plutarch pun memiliki ide untuk menjadikan Katniss sebagai simbol pemberontakan alias Sang Mockingjay. Mockingjay adalah sejenis burung yang dapat meneruskan bunyi yang ada di dekatnya secara berulang-ulang. Katniss dianggap cocok sebagai Mockingjay setelah Plutarch melihat aksinya di dua penyelenggaraan Hunger Games.

Setelah Katniss setuju untuk dijadikan Mockingjay, penampilannya pun dipoles oleh Effie (Elizabeth Banks) dan Haymitch (Woody Harrelson) agar tampil heroik dalam video perjuangan yang disiarkan ke seluruh distrik. Kemunculan Katniss ditanggapi dengan keras oleh Presiden Snow (Donald Sutherland). Peeta Mellark (Josh Hutcherson), peserta Hunger Games sedistrik yang berada dalam sandera Capitol, didoktrin dan diracun agar menghentikan Katniss. Upaya Peeta untuk memperingatkan Katniss dan distrik 13 dari bombardir pesawat Capitol pun berakibat mematikan bagi Peeta. Lalu bagaimana Katniss menanggapinya? Akankah dia berhenti menjadi Mockingjay demi Peeta?  

Walaupun fiktif, seru banget nonton film ini dari seri ke seri. Kalau di film terdahulunya kita dimanjakan oleh berbagai kostum seru yang dikenakan Katniss di film ini kita akan lebih banyak terbuai dengan ceritanya. Adegan paling berkesan menurut saya adalah ketika Katniss diminta bernyanyi oleh kru video di pinggir sebuah sungai.

Kabarnya waktu syuting adegan ini J-Law sempat nggak pede dengan suaranya sendiri –yang menurut saya enak-enak aja didengarnya. “Are you, are you, Coming to the tree, Where they strung up a man they say murdered three, Strange things did happen here, No stranger would it be, If we met up at midnight in the hanging tree…,” senandung Katniss. Siapa sangka? Nyanyian sederhana itu kemudian mengakibatkan efek yang sangat luar biasa bagi perjuangan mereka.

Cerita seri kali ini sangat menarik. Mungkin bisa dibilang filosofis juga karena isinya relevan dengan politik negara-negara di dunia. Baca di Wiki, film ini sampai di-banned lho di Thailand akibat aksi pendemo pro-demokrasi yang sempat-sempatnya ngasih salam tiga jari ala Katniss di film ini saat berdemo. Kalau mau nonton film yang ada isinya dan aksinya Mockingjay Part 1 ini is a must. Selamat menonton!


TAGS review mockingjay hunger games


-

Author

Moviegoers. Writer. Enjoying life in a fast lane.

Follow Me

Search