Review ‘Jurassic World’: Saat Dinosaurus Kembali ke Layar Lebar

15 Jun 2015

Beberapa puluh tahun yang lalu, iya hampir 20 tahun berlalu, film ‘Jurassic Park’ menggebrak jagad hiburan di tahun 1993. Fenomenal. Di tangan Steven Spielberg, penonton “diperkenalkan kembali” dengan sosok keberadaan hewan-hewan yang pernah berjaya di masa lampau, dinosaurus.

Film tersebut sangat nyata dan membangkitkan euforia terhadap segala hal berbau dinosaurus –tak terkecuali bagi saya. Film pertama yang fenomenal itu tak pernah bisa dikalahkan oleh sekuelnya di tahun 1997 dan sekuel berikutnya di tahun 2001. 

Setelah 20 tahun berselang, dinosaurus kembali ke layar lebar. Bertajuk ‘Jurassic World’ para penulis skenario berusaha membangkitkan memori penonton dengan beberapa detail yang coba dihubungkan dengan masa lalu –dimana film ‘Jurassic Park’ pernah berjaya.

Seperti theme park Jurassic Park, yang di film pertamanya gagal dibuka karena keburu diporak-porandakan T-Rex, diceritakan telah dibuka dengan nama Jurassic World selama 10 tahun bahkan sudah sempat mengalami masa jaya. Namun taman tersebut mengalami stagnansi pengunjung sehingga sang pemilik merasa perlu menghadirkan atraksi baru yang “lebih seram dan lebih menakutkan”.

Dari lab di Isla Nublar, seorang ilmuwan menciptakan dinosaurus yang memiliki kemampuan kamuflase, lebih banyak gigi dan lebih cerdas dari T-rex yang dinamakan Indominus Rex. Namun  belum sempat diperkenalkan ke publik, atraksi ini keburu mengamuk di Jurassic World. 

Bisakah Claire (Bryce Dallas Howard) yang dibantu oleh Owen (Chris Pratt) dan rekan-rekannya mengatasi keganasan Indominus Rex? 

Di film ini ada lebih banyak dinosaurus yang dimunculkan –jika dibandingkan film-film sebelumnya. Namun nama dan bentuknya makin ajaib karena kebanyakan dihasilkan dari “perkawinan” DNA berbagai jenis hewan masa kini. Salah satu yang paling wow yang ditampilkan di sini menurut saya tapi bukan Indominus, tapi Mosasaurus — dinosaurus yang menyerupai ikan paus purba. Terlepas dari kenyataan bahwa film ini adalah fiksi, tapi tetap saja seru banget melihat bermacam-macam dinosaurus itu. 

Tapi mungkin karena bagus banget CGI-nya jadinya tetep yah, film ini kurang terasa manusiawi seperti film pertama. Dari bentukan dinosaurus-nya ceritanya aja udah genetic lab semua. Kengamukan Indominus juga saya rasa kurang dapet. Belum lagi background cerita Claire dengan dua keponakannya, kurang touchy gitu.

Yang paling bikin ngikik adalah komentar di forum online luar yang heboh ngomongin tokoh Claire, yang sepanjang film berlarian dengan sepatu high heels-nya. I thought about that too! But it’s forgiven sih. Namanya juga film, ya. 

Apapun, bagi pecinta film science fiction, action atau sekedar suka aja dengan dinosaurus, ‘Jurassic World’ ini boleh banget lah ditonton. Apalagi bagi Anda yang belum pernah nonton ‘Jurassic Park’ –eh emang ada? :D. 


TAGS Review Film jurassic world


-

Author

Moviegoers. Writer. Enjoying life in a fast lane.

Follow Me

Search