Entries Tagged 'Drama' ↓
April 21st, 2012 — Drama, Random
Tanggal 21 April adalah peringatan Hari Kartini. Terkait dengan momen istimewa ini, saya mau berbagi cerita tentang film peremuan yang baru-baru ini saya tonton. Nanti ada kontes yang berhadiah seru.

Judul film ini The Iron Lady. The Iron Lady mengangkat kisah seorang perempuan istimewa bernama Margareth Thatcher (diperankan oleh Meryl Streep). Thatcher merupakan Perdana Menteri perempuan pertama Inggris yang juga Perdana Menteri terlama yang pernah memimpin negeri yang terkenal dengan jam Big Ben-nya tersebut.
Karena ketegasannya selama memerintah Inggris pada periode 1979-1990 Thatcher dijuluki Iron Lady oleh Uni Sovyet. Salah satu bukti ketegasannya adalah ketika dia berani memerangi Argentina dalam Perang Falkland.
Di balik superioritasnya di kancah politik yang didominasi oleh laki-laki, Thatcher ternyata perempuan yang memiliki ketergantungan terhadap sosok suaminya, Denis. Hal yang tidak pernah saya (atau kamu mungkin) sangka-sangka.
Menurut saya film ini sangat berkesan karena sukses menampilkan dua sisi perempuan, yang memiliki ketegasan saat menjalankan tanggung jawab profesionalnya dan kerapuhan yang sangat lekat dengan citra perempuan saat berada di rumah.
Nah, dalam perayaan Hari Kartini ini saya beruntung ditunjuk sebagai satu dari 21 blogger perempuan yang akan mengadakan kontes #bloggerkartinian memperingati hari yang istimewa ini. Kontes di blog saya gampang banget dan masih nyambung sama postingan saya di atas.
Kamu pernah menonton film dengan tokoh perempuan yang berkesan? Komentar di bawah postingan ini dengan menyebutkan judul film dan alasan film itu berkesan buat kamu.
Komentar kamu ditunggu mulai hari ini, 21 April sampai dengan 5 Mei 2012. Pemenang komentar paling menarik akan saya umumkan di blog saya ini pada 7 Mei 2012.
Dua komentar yang paling menarik akan mendapatkan kenang-kenangan berupa t-shirt eksklusif edisi Hari Kartini persembahan dari blogdetik dan hadiah kejutan yang akan saya beritahukan nanti. Oh ya, kontes ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, lho
Oke ya, ditunggu komentar film perempuan paling berkesan versimu.
Selamat Hari Kartini!
Oktober 25th, 2011 — Drama
Sebetulnya udah lama nih nontonnya, tapi, seperti biasa, menunggu terbit mood untuk menulis reviewnya :).
Film ini adalah film dimana kita bisa melihat Robert Pattison tanpa wajah pucat, taring dan suara mendesah kayak di film ‘Twilight’.
Berkisah tentang Jacob Jankoski (Pattison) yang bekerja di sirkus pimpinan August (Christoph Waltz) yang kejam. Jacob, sang pawang gajah, jatuh cinta kepada Marlena Rosenbluth (Reese Witherspoon), istri pimpinan sirkus yang cantik dan seksi.
Cinta terlarang Jacob mendapatkan gayung bersambut dari Marlena hingga keduanya memutuskan kabur dari sirkus yang membesarkan namanya. Apes, pelarian Jacob dan kekasihnya tercium oleh August yang murka. Marlena dibawa pulang, sementara Jacob berhasil melarikan diri.
Namun karena cintanya yang besar kepada Marlena, Jacob menantang maut dan kembali menyambangi Marlena yang berada di pelukan August. Apa yang terjadi dengan Jacob dan Marlena? Akankah kisah cinta mereka berakhir indah? Nonton yuk.

Tanpa wajah pucatnya, si Edward Cullen ternyata tetap tampil menawan. Ganteng lah. Tapi menurut gue, Witherspoon yang tampil lebih menonjol di film ini. Gimana dia beraktraksi dengan gajah. Peraninnya pasti pakai usahakeras tuh.
Walau Pattison tampil biasa saja tapi yang jelas chemistry diantara dia dan Witherspoon “dapet banget” sehingga film ini asyik ditonton. Nggak heran Kristen Stewart, pacar aslinya Pattison, dikabarkan sampai cemburu berat sama janda cantik itu.
Tapi nggak kalah mencuri perhatian adalah penampilan sang gajah binaan Jacob. Duh, namanya gue lupa. Di akhir film bakal ada adegan menyentuh saat binatang raksasa ini menunjukan kesetiannya pada sang pawang. Animalsdo have big heart.
Jauh dari anything yang galau, non-penggemar ‘Twilight’ sekalipun sebaiknya menyempatkan nonton film ini.
Selamat menonton
April 18th, 2011 — Drama, Indonesia
Jika di blog ini review film Indonesia terakhir yang saya tulis adalah film besutan Hanung Bramantyo, Sang Pencerah. Sekarang saya me-review lagi film Hanung yang sedang menjadi kontroversi di masyarakat.
‘?’ mengangkat kisah tiga keluarga dengan tiga latar belakang agama yang berbeda di Pasar Baru, Semarang, sekitar tahun 2010. Hendra (Rio Dewanto) adalah seorang Kong Hu Cu putra pemilik rumah makan chinese food, Tan Kat Sun (Henky Solaiman).
Soleh (Reza Rahadian) adalah suami Menuk (Revalina S. Temat), perempuan berjilbab yang bekerja sebagai pelayan di rumah makah Koh Tan. Belakangan Soleh bekerja sebagai banser Nahdatul Ulama.
Tokoh sentral ketiga adalah Rika (Endhita). Ibu satu anak ini dikucilkan dari masyarakat karena memutuskan untuk bercerai dan berpindah keyakinan. Rika berteman dengan Surya (Agus Kuncoro), aktor pemula yang ngekos di sekitar rumahnya.
Bagaimana kehidupan toleransi beragama yang diangkat dari kisah nyata ini berjalan? Anda harus menyaksikan filmnya.

Dua kata yang menurut saya tepat untuk menggambarkan film ini adalah: berani dan menggugah. Berani karena dengan sangat gamblang menuturkan ke-Bhineka-an Indonesia. Para karakter di film ini pun mewakili beragam sikap masyarakat akan toleransi beragama.
Ada Koh Tan yang menjual babi di rumah makannya, namun sangat toleran dan menghargai keyakinan para pegawai dan masyarakat sekitar rumah makannya yang muslim. Ada Rika yang memilih beragama Katholik namun tetap mengajarkan anaknya berpuasa dan mengaji. Ada juga Surya yang tidak canggung memerankan tokoh Yesus dalam pementasan Paskah walau beragama Islam. Tapi adajuga Soleh yang fanatik.
Para pemain di film ini menurut saya bermain sudah cukup maksimal. Beberapa adegan mampu membuat saya tertawa, sebaliknya di beberapa lainnya saya nyaris menitikkan air mata. Kredit lebih saya tujukan buat Hengky Solaiman, pemeran Koh Tan dalam film ini. Tanpa kehadiran tokoh ini, rasa-rasanya konflik antar karakter tidak akan terasa gregetnya.
Namun demikian seperti halnya judulnya, film ini juga menyisakan beberapa tanda tanya di benak saya. Misalnya mengenai perubahan sikap Soleh yang cukup drastis di penghujung akhir film.
Film ini masih dibelum diberi judul “?” dan Hanung memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memberi judul. Tapi ingat saja tagline film ini: Masih pentingkah kita berbeda?. Selamat menonton!