Entries Tagged 'Indonesia' ↓

Review ‘Modus Anomali’: Thriller Indonesia Rasa Barat

poster modus anomali

Anomali menurut Wikipedia adalah penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Untuk film produksi Indonesia, Modus Anomali adalah penyimpangan. In a good way.

Seorang pria bangkit dari kuburan di tengah hutan tanpa ingat siapa dia dan mengapa dia ada di sana. Secara perlahan pria bertato ini tahu bahwa namanya John Evans (Rio Dewanto) dan dia memiliki seorang istri dan dua anak yang menyayanginya.

John tiba di sebuah kabin dan mendapati kamera video yang siap diputar. Betapa terkejutnya ia ketika yang didapati di dalamnya adalah adegan pembunuhan sang istri.

Siapa yang mengubur John? Siapa yang tega mencabut nyawa istrinya? Kemana dua anaknya pergi? Hmmm…

Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab satu per satu sepanjang filmnya. Namun sebetulnya tidak semua terjawab. Karena film ini masih menyisakan teka-teki yang saya tidak paham jawabannya. Hal tersebut membuat saya menebak-nebak bahwa film ini akan menjadi trilogi, punya prekuel atau apapun itu.

Untuk sebuah film bergenre thriller produksi Indonesia, film karya Joko Anwar ini jelas sebuah anomali. Itu jika dibandingkan film horor, hantu atau mistik yang hanya menjual sensasi.

Penggunaan Bahasa Inggris sepanjang film menambah rasa barat lain yang menurut saya cukup berani. Sebab tidak ada petunjuk yang cukup gamblang menjelaskan jika film ini mengambil latar di luar negeri (kecuali kartu identitas John dan plat mobilnya). John juga tidak memakai cincin di jari manis kiri dan mengendarai mobil yang setirnya ada di kiri –seperti lazimnya orang barat di film :D

Terlepas dari itu akting Rio Dewanto patut diacungi jempol. Sangat berbeda dibandingkan penampilannya di FTV S*TV. You must loved him after this.

Jadi, apakah Anda menyukai thriller psikologis penuh teka-teki? Berarti Anda harus menyaksikan film ini.

Share and Enjoy…
  • Facebook
  • TwitThis
  • Google
  • del.icio.us
  • Technorati

Review ‘The Raid’: Tegang dari Awal Sampai Akhir

Saya berkesempatan menyaksikan The Raid pada gala premier yangdigelar kemarin, Rabu (21/03/2012), di Epicentrum Walk. Karena mendapatkanapresiasi luas di luar negeri, film ini menjadi sangatdinanti-nantikan di tanah air dan gala premiernya dipenuhi orang. And it was worth thewait.

The Raid menceritakan tentang pasukan khusus kepolisian yangdiberi misi untuk menggerebek sarang narkoba pimpinan Tama(Ray Sahetapy) di sebuah kompleks apartemen tua.Dibantu dua tangan kanannya, Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Andi (Dony Alamsyah), dan bekingan dari para begundal yang dinaunginya, Tama menjalankan bisnis haramnya tanpamampu tersentuh aparat.

Dengan beberapa rookie di kepolisian seperti Rama (IkoUwais), pasukan yang dipimpin oleh Jaka (Joe Taslim)mencoba menerobos masuk. 20 orang anggota pasukanelit itu terjebak dalam neraka yang merekajemput sendiri.

Film ini menyuguhkan 101 menit ketegangan tanpa akhir. Anda akan melihat banyak sumpah serapah, pertumpahan darah, dar-der-dor, dan pertarungan tangan kosong tingkat dewa yang diperagakan dengan ciamik oleh para aktornya.

Luar biasanya, film yang cukup gelap temanya ini juga mampu menyelipkan unsur-unsur komedi yang menyegarkan tanpa terkesan memaksa, utamanya lewat peran Mad Dog.

Jadi nggak heran ketika mata terpejam atau bibir meringis melihat kebrutalan yang disuguhkan, sejurus kemudian Anda tertawa, atau minimal tersenyum mendengar celetukan MadDog.

Pujian berikut diberikan untuk siapapun yang menyiapkan properti dan berhasil menyulap bangunan tua itu menjadi apartemen angker yang sangat masuk dengan keseluruhantema.

Seperti kata sang sutradara, Gareth Evans, film ini memang brutal tapi saksikanlah dengan gembira. Setidaknya gembira menyaksikan satu lagi film bermutu yang diproduksi dan diperankan oleh orang-orang Indonesia. Gembira menyaksikan aktor laga levelHollywood dalam diri Iko Uwais dan Yayan Ruhian.

Apakah saya merekomendasikan film ini untuk ditonton? Tentu! Tapi pastikan Anda mengajak orang yang tepat dengan usiayang juga tepat untuk menikmati ketegangannya bersama-sama.

Share and Enjoy…
  • Facebook
  • TwitThis
  • Google
  • del.icio.us
  • Technorati

Review ‘Negeri 5 Menara’: Man Jadda Wajada yang Sempurna

Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Mantera Man Jadda Wajada ini berhasil menyihir banyak penonton yang telah menyaksikan film Negeri 5 Menara.

Alif (Gazza Zubizareta) adalah remaja tanggung di Padang yang mengidam-damkan untuk kuliah di ITB dan mendunia seperti idolanya BJ Habibie.  Remaja berkacamata ini sangat kecewa ketika sang ibunda (Lulu Tobing) memintanya bersekolah di pesantren selepasnya dari SMP.

Padahal Pondok Madani bukan sembarang pesantren. Sekolah agama ini juga mengajarkan ilmu, kecakapan berbahasa asing, kemandirian dan, yang terutama, semangat pantang menyerah untuk mencapai cita-cita.

Bersama para sahabatnya, Sahibul Menara, Alif belajar menjalani hidup yang sudah ditentukan untuknya. Sempat ingin mundur, dia menemukan bahwa di sekolah agama sekalipun, apabila mau menjalaninya dengan bersungguh-sungguh, dia bisa mencapai cita-citanya.

Saya sudah membaca novel Negeri 5 Menara sebelumnya jadi, bisa ditebak, ekspektasi saya berlebihan. Dalam ekspektasi saya film ini akan mampu menggambarkan secara menyeluruh kehidupan asrama yang mampu mentransformasi seorang remaja ogah-ogahan menjadi punya tekad kuat.

Tapi untuk menggambarkan secara menyeluruh isi novelnya, tentu sangat tidak mungkin karena durasi. Jadi cukup bagi pembaca, termasuk saya, melihat sedikit soal Tyson, sedikit soal Sarah dan sedikit soal pengalaman Alif menjadi siswa yang berprestasi dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Namun terlepas dari yang sedikit itu, saya melihat banyak. Banyak bakat muda yang ditemukan oleh tim yang dipimpin Affandi Abdul Rahman di film ini. Diantaranya direfleksikan lewat pemeran Alif, Baso (Billy Sandy) dan Atang (Aris Putra), yang jadi favorit saya. Ketiganya berhasil membawakan perannya secara natural.

Para pemain muda ini melebur dengan para bintang kawakan seperti Ikang Fawzi (Kyai Rais), Donny Alamsyah (Ustadz Salman), ataupun David Chalik (Ayah Alif).

Saya tidak menangis ketika membaca novelnya, tapi baru 15 menit film ini berjalan saya sudah tersedu-sedu, yang puncaknya saat Alif memenuhi permintaan ibundanya untuk sekolah di Madani di acara makan malam keluarga.  Sutradara Affandi juga berhasil memvisualisasikan cerita di novel menjadi lebih menyentuh di scene lainnya. Yaitu ketika Baso, yang juara kelas, terpaksa meninggalkan Madani karena neneknya di Gowa sakit keras.

Banyak juga visualisasi gambar yang membuat film ini sangat menarik. Seperti di Danau Maninjau dan Pondok Madani alias Pesantren Gontor-nya. Menurut Affandi dan Ahmad Fuadi yang saya temui ketika live chat di detikForum, semua lokasi diambil di tempat sebenarnya, termasuk di Trafalgar Square di London. Tapi bersyukur karena dalam promosinya tidak disebutkan asli syuting di London dan distempel #ups :)

Katanya, tidak akan ada film yang diangkat dari novel yang “sempurna” menggambarkan novelnya. Tapi karena sudah bersungguh-sungguh dalam penggarapannya, film ini sudah sempurna. Untuk keluarga dan orang-orang yang menghargai persahabatan, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton. Yuk!

Share and Enjoy…
  • Facebook
  • TwitThis
  • Google
  • del.icio.us
  • Technorati